| Oleh Suriani MAKASSAR – Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) masih sekitar lima bulan lagi, tepatnya November 2007 mendatang. Namun, aroma pertarungan untuk menduduki kursi nomor satu di provinsi yang terkenal dengan kapal pinisi nusantara tersebut sudah menyeruak. Ada tiga pasangan yang bakal maju merebut posisi gubernur. Calon yang akan tampil dalam pertarungan segitiga tersebut, yakni HM Amin Syam, Syahrul Yasin Limpo, dan Azis Qahhar Muzakkar. Mereka bakal mengulang sejarah masa lalu dengan kekuasaan tiga kerajaan besar di Sulsel, yakni Kerajaan Bone, Gowa, dan Luwu. Amin Syam yang kini masih menjabat sebagai Gubernur Sulsel, dengan kekuatan etnik Bugis Bonenya menggandeng Prof DR Mansyur Ramly, Kepala Balitbang Depdiknas, sehingga dari akronim kedua nama pasangan tersebut dimunculkan istilah “Asmara” (Amin Syam-Mansyur Ramli). Pasangan ini diusung Partai Golkar, partai yang mendapatkan suara mayoritas pada Pilkada Gubernur Sulsel 2002 lalu. Tak mau kalah dengan partner kerjanya di Pemprov Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Wakil Gubernur Sulsel yang kental dengan etnik Makassar dan sebagai turunan Raja Gowa, kini positif menggandeng Agus Arifin Nu’mang yang kini menjabat Ketua DPRD Sulsel dan kemudian memunculkan akronim “Sayang” (Syarul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang). Sebelumnya, Syahrul yang diusung Partai Amanat Nasional (PAN) masih kebingungan mencari pasangan. Pasalnya, Azis Qahhar yang semula dibidik sebagai pasangan, sudah dipatok oleh “koalisi keumatan” yang berasal dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang dan partai-partai yang berideologi Islam. Syahrul dan Agus, keduanya adalah pengurus teras Partai Golkar Sulsel, namun berdasarkan hasil konvensi DPD Golkar beberapa bulan lalu disebutkan, kader Golkar yang dicalonkan oleh partai lain, akan dicoret kepengurusannya.Pasalnya, dalam tubuh Golkar tidak boleh mencalonkan dua kandidat dalam payung politik yang sama. Dan hasil keputusan final, hanya Amin Syam yang didukung oleh pengurus Golkar Sulsel. Berbeda dengan kedua rivalnya, Azis kelahiran tanah Luwu, dengan bayang-bayang kekuasaan Kerajaan Luwu dan ketokohan ayahnya, Qahhar Muzakkar—yang pernah berjuang bersama mantan Presiden Soekarno mendirikan Republik, namun kemudian dicap sebagai pemberontak karena ingin mendirikan negara Islam—dalam karier politiknya, mencoba memperbaiki citra tersebut. Terbukti Azis kini berhasil duduk sebagai DPD RI setelah mendapat dukungan penuh dari masyarakat Sulsel. “Kita tidak perlu akronim, tapi yang perlu adalah bagaimana memberikan pendidikan politik kepada masyarakat dan bisa bersaing dengan sehat,” ungkap Azis yang tidak mau ikut-ikutan memberikan akronim pada namanya dan pasangannya, yakni Mubyl Handaling, pejabat teras Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Sulsel. Azis sendiri dalam lawatannya ke sejumlah pertemuan masyarakat, selalu tampil cool dan tidak berapi-api, seperti kedua lawan politiknya Amin dan Syahrul yang sudah saling melemparkan black campaign jika menghadiri pertemuan tertentu untuk menggalang simpati masyarakat di daerah ini. Bahkan sudah menjadi rahasia umum, keduanya lebih banyak melakukan kunjungan ke daerah dengan alasan dinas luar sebagai pejabat Pemprov, namun sebenarnya sudah melakukan kampanye dini. Seringnya gubenur dan wakilnya ini meninggalkan kantor secara bersamaan, sudah menjadi sorotan bagi media lokal, termasuk Wakil Presiden HM Jusuf Kalla yang mengungkapkan kekecewaannya pada kedua pejabat tersebut yang dinilai sudah melalaikan tugasnya. Lagu Lama |
Oleh: Asman Nur | Oktober 19, 2007
Pilkada Sulsel, Pertarungan Tiga Kerajaan Besar
Ditulis dalam Uncategorized